Home / News / Peradaban vs Kebiadaban

Peradaban vs Kebiadaban

Ukuran Kebiadaban
Sebuah Bangsa
Luhur tidaknya atau unggul tidaknya peradaban sebuah bangsa biasanya diukur dengan cara melihat hasil karya dan inovasi mereka dalam sebuah bidang yang memiliki nilai kemanfaatan yang besar dan langsung terhadap kehidupan manusia. Semakin banyak dan dalam jumlah besar kontribusinya maka semakin luhur dan unggul nilai keberadaban mereka.
Luhurnya peradaban juga dapat dilihat dari produk-produk intelektual seperti buku-buku maha karya tentang sejarah, filsafat, ilmu-ilmu sosial dan science. Di samping karya intelektual, juga karya di bidang pembangunan pranata hukum dan tata kelola kehidupan kenegaraan, kemasyarakatan, dan kemanusiaan. Karya-karya ini lalu mempengaruhi dan mengikat jadi norma sosial masyarakat sekitarnya.
Peradaban modern ukurannya lain lagi. Semakin canggih teknologi yang bisa mempermudah hidup manusia maka dianggap sebagai yang paling terdepan. Sebut saja beberapa sektornya yakni teknologi informasi/komunikasi, automotif, sistem transportasi, dan instrumen perdagangan. Semakin digital, maksimal penggunaan mesin dan otomatis maka dianggap paling luhur peradabannya.
Kebalikan dari realitas peradaban yakni rendahnya nilai peradaban karena tingginya praktek kebiadaban dalam tata kehidupan. Ini terjadi karena rendahnya moralitas masyarakat akibat tidak bekerjanya akal sehat dan hilangnya kewibawaan peraturan yang jadi panduan moral masyarakat. 
Untuk mengukur seberapa parah tingkat kebiadaban suatu bangsa dapat diukur dari jenis kriminalitas yang sering terjadi. Kita melihat akhir-akhir ini banyak sekali kasus-kasus kejahatan yang dengan mudah sekali bermain dengan penghilangan nyawa org lain. Tragis dan lebih ironis lagi aksi saling bunuh terjadi di antar sesama anggota kerabat dan kekuarga terdekat.
Kemarin kita dikejutkan dengan sesok mayat Bocah Dalam Kardus. Dan beberapa kasus pembunuhan biadab lainnya. Pemicunya seringkali hal-hal sederhana bahkan karena soal sepele. Ini sunggu berbahaya. Sudah saatnya melakukan upaya pelurusan nilai-nilai luhur dan ini barangkali yang disebut Jokowi sebagai revolusi mental.
Kita berharap agenda peradaban yang diusing Jokowi ini semakin menemukan bentuk. Besar harapan terjadi tranformasi nilai luhur yang mengubah wajah kebiadaban menjadi peradaban.

Comments

comments

Check Also

Dzikir Itu Alat Pencuci Darah Kotor

Dzikir itu cuci darah. Kanjeng Nabi Muhammad Shollalohu ‘alaihi salam bersabda, ‘Dan sesungguhnya Syetan merasuk ...