Home / News / Iedul Qurban: Perjuangan Cinta Sejati & Hakikat Kemanusiaan

Iedul Qurban: Perjuangan Cinta Sejati & Hakikat Kemanusiaan

Iedul Qurban:
Perjuangan Cinta Sejati & Hakikat Kemanusiaan
Oleh: Abah Jagat
(Disarikan dari Khutbah Iedul Adha di Aula Sidrotul Muntaha,
Pesantren Peradaban Dunia Jagat ‘Arsy)
….إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
……
‎Iedul Adha atau Iedul Qurban bukanlah ibadah tanpa tujuan danpembelajaran untuk kita, sebagai makhluq ciptaanNya. Di dalam ibadah Qurban
terkandung nilai sekaligus pesan moral untuk kita umat manusia, agar mampu
menemukan makna cinta dan hakikat kemanusiaan dalam diri kita.
Idul Adha juga dikenal dengan sebutan “Hari Raya Haji” di mana pada
bulan Dzulhijjah ini sebagian kaum muslimin yang mampu sedang menunaikan ibadah
Haji di tanah Haram. Mari kita doakan: Semoga mereka bukan hanya “jadi Haji”
tetapi juga menjadi “Haji jadi”. AMIN. Dan semoga mereka] menjadi
manusia-manusia yang mampu memaknai] dan menghayati hakikat diri seorang Haji.
AMIN..

Agar mampu menangkap spirit dari ajaran yang jadi amalan ber-qurban
sejenak kita menengok ke masa silam saat dua manusia pilihan, yaitu Ibrohim dan
putranya Ismail AS berhasil membuktikan bahwa cinta mereka yang sejati hanyalah
milik dan kepada Alloh azza wajalla.
Karena peristiwa pembuktian kesejatian cinta dua manusia agung inilah
Alloh swt men-tasyri’kan ibadah penyembelihan hewan qurban. Ibrohim AS adalah
satu-satunya hamba sekaligus utusan Alloh yang mendapat gelar kemuliaan sebagai
kholilulloh atau kekasih sejatinya Alloh.
Jauh sebelum gelar itu disandangkan Ibrohim harus melalui hari-hari
yang tidak mudah dalam hidupnya. Ini karena pilihan cinta setianya hanya kepada
dan untuk Alloh. Berbagai ujian kesetiaan dan kecintaan diberikan Alloh, namun
subhanalloh, Ibrohim AS selalu lulus sempurna.
Ujian di periode awal kehidupannya berTAUHID yakni ketika Ibrohim muda
untuk pertama kalinya menyatakan keyakinan bulatnya kepada ayah kandungnya
tentang siapa Tuhan sesungguhnya. Ayahnya adalah salah seorang produsen pembuat
patung tuhan-tuhan saat itu. Ayahnya jelas dan tegas menolak lalu mengusir
Ibrahim dari hidupnya.
Sikap Ibrahim kokoh dan tegar untuk dan hanya menomorsatukan Alloh
sekaligus tetap meng-ESA-kannya meski beliau sudah berada di ujung kematian,
yaitu, saat seorang Raja yang lalim bernama Namruz memerintahkan pasukannya
untuk menangkap dan melemparkan Ibrahim ke tengah kobaran api yang khusus
disediakan untuk menghanguskan jiwa raga Ibrohim berikut api cintanya kepada
Alloh.
Keputusan Namruz untuk menghukum Ibrohim karena dianggap mengganggu
(subversive), dan tak pernah surut terus mendakwahkan KETAUHIDAN Alloh di
mana-mana. Dan Alloh tidak meninggalkan Ibrohim. Keteguhan perjuangan dan
cintanya dijawab Alloh dengan turunnya kemukjizatan: api yang sifat alamnya
panas dan membakar] berubah seketika menjadi dingin dan menyelamatkan
Nabiyulloh Ibrohim. Yaa Naaru Kuuni bardan wasalaaman ‘ala ibrohim…
Atas keistiqomahannya meng-Esa-kan Alloh dalam hati,  tutur kata, sikap perbuatan dan seluruh
kegiatan hidupnya, agama-agama Samawi (langit)] seperti Yahudi, Kristen dan
Islam –yang biasanya berselisih faham– sepakat dalam satu pendapat bahwa
Ibrohim adalah, sungguh, BAPAK MONOTHEISME atau BAPAK TAUHID yang pernah ada
sepanjang sejarah manusia.
Dengan demikian, jelas, predikat dan derajat Nabiyulloh Ibrohim AS
sebagai kekasih-nya Alloh  tidak dicapai
dengan mudah atau gratisan.  Sangat berat
ujian yang harus dilalui kholilulloh Ibrohim di mana puncak ujian cintanya
kepada Alloh harus diukur dengan kepasrahannya menyerahkan nyawa putra
tercintanya yakni Nabi Ismail AS dengan cara disembelih oleh kedua belah
tangannya.
Seperti mutawatir dikisahkan Nabi Ibrohim harus menunggu puluhan tahun
lamanya untuk mendapat keturunan. Begitu yang didambakannya itu terlahir
Ibrohim sudah harus siap dan bersedia menjalankan perintah Alloh agar bisa
hidup terpisah dengan istri dan putranya semata wayangnya yang masih lucu dan
menyenangkan.
Rosulloh Ibrohim diperintahkan Alloh untuk mengantar dan meninggalkan
istri dan anaknya yang baru lahiran untuk bermukim di kawasan kering tandus
tanpa seorang pun di kota yang sekarang Mekkah. Sementara beliau tinggal di
kawasan yang sekarang disebut tanah Palestina. Sungguh jauh terbentang jarakantara Palestina dan Mekkah. Baik yang meninggalkan dan ditinggalkan terbukti
sama-sama istimewa. Mereka ridlo dan ikhlas menjalani ketetapanNya.
Setelah sekian lama terpisah dan tiba saat perjumpaan dan kebersamaan
antara ayah dan anak yang sudah mulai beranjak dewasa, Alloh lalu memerintahkan
Ibrohim melalui mimpi 3 kali untuk merelakan nyawa anaknya Ismail untuk
disembelih.
قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي
أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي
أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى
“Hai anakkku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku
menyembelihmu “maka fikirkanlah apa pendapatmu?”
Sesuatu yang indah dan mengharukan terjadi tatkala perintah berat ini
disampaikan kepada putra terkasihnya Ismail. Dengan penuh khidmat dan taat,
Ismail menyanggupi permintaan ayahanda yang baru dijumpainya itu.
قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ
مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ
مِنَ الصَّابِرِينَ
Ismail menjawab: Wahai bapakku kerjakanlah apa yang diperintahkan
kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QSAs-shaffat: 102).
Ibundanya Siti Hajar juga manusia minta dibawalah menjauh. Di bawalah
Ismail yang berbalut kain putih ke sebuah bukit. Di tengah perjalanan menuju
lokasi penyembelihan seperti dikisahkan, Ibrohim terus menerus digoda oleh
segerombolan Syetan dicacinya Ibrohim lalu digoda dengan makian, “Kok bisa wahai
Ibrohim anakmu darah dagingmu sendiri disembelih sedang hewan buas pun tidak
melakukannya] kenapa dengan engkau?
Namun bukan Ibrohim kalau tidak kukuh pendirian, dilemparinya
syetan-syetan itu, sampai lari tunggang langgang. Apa yang dilakukan Ibrohim
ini diabadikan dalam salah satu kaifiyah pelaksanaan syariat ibadah Haji dengan
nama “melempar jumroh”
Setelah sampai di suatu tempat, dalam keadaan tenang Ismail berkata
kepada ayahnya: ”Ayah, ku harap kaki dan tanganku diikat, supaya aku tidak
dapat bergerak leluasa, sehingga menyusahkan ayah. Hadapkan mukaku ke tanah,
supaya tidak melihatnya. Sebab kalau ayah melihat nanti akan merasa kasihan.
Lepaskan bajuku, agar tidak terkena darah yang nantinya menimbulkan kenangan
yang menyedihkan. Asahlah tajam-tajam pisau ayah, agar penyembelihan berjalan
singkat, sebab sakaratul maut dahsyat sekali.
Berikan bajuku kepada ibu untuk kenang-kenangan serta sampaikan salamku
kepadanya supaya dia tetap sabar, saya dilindungi Allah SWT, jangan cerita
bagaimana ayah mengikat tanganku. Jangan izinkan anak-anak sebayaku datang ke
rumah, agar kesedihan ibu tidak terulang kembali, dan apabila ayah melihat
anak-anak sebayaku, janganlah terlampau jauh untuk diperhatikan, nanti ayah
akan bersedih”.
Nabi Ibrohim menjawab, ”baiklah anakku, Allah swt akan menolongmu”.
Setelah Ismail, putra tercinta ditelentangkan di atas sebuah batu, dan pisaupun
diletakkan di atas lehernya, Ibrohim pun menyembelih dengan menekan pisau itu
kuat-kuat, namun tidak mempan, bahkan tergores pun tidak.
Allah SWT memerintahkan jibril untuk mengambil seekor kibasy dari surga
sebagai gantinya. Dan Allah swt berseru dengan firmannya, menyuruh menghentikan
perbuatannya, tidak usah diteruskan pengorbanan terhadap anaknya. Allah telah
meridloi ayah dan anak memasrahkan tawakkal mereka. Sebagai imbalan keikhlasan
mereka, Allah mencukupkan dengan penyembelihan seekor kambing sebagai korban,
sebagaimana diterangkan dalam Al-Qur’an surat As-Shaffat ayat 107-110:
وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ
“Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”
Menyaksikan tragedi penyembelihan yang tidak ada bandingannya dalam
sejarah umat manusia itu, Malaikat Jibril menyaksikan ketaatan keduanya,
setelah kembali dari syurga dengan membawa seekor kibasy, kagumlah ia seraya
terlontar darinya suatu ungkapan “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.”
Nabi Ibrahim menyambutnya “Laailaha illahu Allahu Akbar.” Yang kemudian di
sambung oleh Nabi Ismail “Allahu Akbar Walillahil Hamdu.
Lulus sudah kedua Insan ini baik Ibrohim dan Ismail berhasil
membuktikan cintanya kepada Alloh lebih dari segalanya di dunia ini, bahkan
untuk melepaskan yang amat sangat dicintainya: putra tercintanya, dan nyawa
satu-satunya. Inilah makna dan pesan moral Qurban, yaitu, keikhlasan hati untuk
mempersembahkan dan mengorbankan yang terbaik dan paling dicintai untuk Alloh
swt.
Pesan moral dan pelajaran yang kedua yang dapat kita petik, yaitu,
ketika akhirnya ibadah Qurban disyariatkan, pertanyaannya: kenapa kita
kira-kira harus melakukan Qurban melalui ritual “penyembelihan “hewan
–pencabutan nyawa?
Meski dalam urusan ibadah seringkali tidak perlu ditanyakan kenapa-nya,
kita hanya perlu ittiba’ saja, tapi semoga saja dengan mengetahui hakikat niat,
syariat, dan ghoyat dari ibadah qurban], kita semakin mantap dan semakin
sholeh.
Manusia, dalam kategori besar, termasuk dalam sejenis hewan atau
binatang.‎ Watak dasar atau bawaan lahir dari binatang, apapun spesies dan
ordo-nya, di mana-mana, sama: mereka berkebutuhan terhadap makan, minum,
berpasangan, berketurunan. Pemenuhan kebutuhan itu untuk bisa melangsungkan
hidup dan mempertahankan keberlangsungan spesiesnya.
Sifat alamiyah mereka bergerak, berperilaku, dan mengambil tindakan,
pada dasarnya dan semula sama, karena insting kehewanannya, yang terbentuk
sekian lama di lingkungan atau habitatnya. Oleh karena itu sangat tidak
mengherankan bila hewan seringkali melakukan tindakan yang semau-maunya, lepas
kendali, dan seringkali mengancam], sekaligus membahayakan kesinambungan
spesies lainnya.
Situasi lebih buruk ketika alam sedang tidak bersahabat, cadangan
kebutuhan konsumsi‎ menipis dan krisis, kalau sudah seperti ini instinct dahaga
dan lapar yang bekerja, yang sering terjadi adalah seleksi alam atau natural
selection yang ketat melalui pertempuran berdarah dan bertaruh nyawa untuk
mendapatkan jatah sisa makanan dan sedikit minuman. Satu sama lain saling
membunuh, bahkan di antara sesama spesies untuk sebuah struggle for life
(berjuang untuk bisa bertahan hidup).
Kalau sudah hukum seleksi alam] maka] yang terjadi adalah survival of
the fittes (mereka yang bertahan ialah yang memenangkan pertempuran). ‎Agar
bisa eksis] dan berhasil melalui ancaman kepunahan mereka harus memiliki
self-defend yang kuat sekaligus bernyali untuk menangkal serbuan lawan.
Masing-masing secara alamiyah sudah dibekali Alloh kemampuan tersebut.
Nature hewan untuk bisa bertahan hidup seperti itu karena memang tidak
punya norma (aturan), apalagi kemampuan membangun norma-norma atau
peraturan-peraturan. Ketidakmampuan itu karena Alloh tidak menganugrahkan
teknologi akal dan qalbu sebagai alat mengetahui mana yang benar dan mana yang
salah, sekaligus mengetahui Yang Maha Benar. Dengan anugrah teknologi akal dan
qolbu], mereka mampu membedakan dengan jelas dan memilih jalan yang baik dan
buruk untuk keberlangsungan hidup mereka.
Hanya hewan berjenis manusialah yang diberi keunggulan teknologis untuk
memproses seluruh tindakannya lebih manusiawi sesuai tuntutan ilahi. Meski
sudah jelas manusia memiliki kapasitas intelektual dan intuitif, tidak lantas mereka
langsung ada yang bisa menggunakan teknologi canggih bawaan ilahi ini.
Dua perangkat lunak yang sudah dimasukkan dalam paket penciptaannya ini
sejatinya jadi central process atau pusat komando dan kendali perilaku dan
sikap, namun dalam pelaksanaannya, karena banyak yang tidak membaca manual
guide (buku petunjuk) pengoperasian, mereka akhirnya kembali dan menggunakan
insting kebinatangannya dalam tata kehidupan mereka.
Jumlah manusia yang seperti ini tidak sedikit. Apalagi banyak yang
terjadi justru kanibal teknologi, hanya pake akal dan insting, minus qolbunya,
maka yang terlahir adalah sejenis hewan buas, liar, dan ganas berwujud rupa
manusia. Tampilan luarnya manusia berparas gagah perkasa, cantik jelita, dan
bergaya pintar tapi perilaku hidupnya lebih hewan dari hewan.
Di zaman sekarang ini, model manusia berhati binatang ada di mana-mana.
Tampak kerusakan di mana-mana, kerusuhan sosial, konflik politik berdarah tumpah
di berbagai belahan dunia. Gelombang ratusan ribu Pengung Syiria dan Irak
terlunta di luar perbatasan negaranya. Ini semua akibat mereka, manusia yang
menomorsatukan instingnya daripada akal dan qolbunya.
Dalam skala dan bentuk sederhana, tidak terasa kita juga sering
memperturutkan hawa nafsu] yang bersumber dari insting kehewanan dalam
kehidupan sehari-hari. Kita sering melanggar norma kehidupan yang sudah
dituntunkan Alloh melalui para Nabinya, para rosulnya, dan para wali-wali
kekasihNya. Semua sudah menjadi penyakit hati: kikir, tamak, pengadu domba, dan
penyakit hati lainnya.
Oleh karenanya, sebagai bentuk pengingat dan penanda sejatinya kita
senantiasa berada di lajur kemanusiaan dan keilahian maka ibadah Qurban dipilih
sebagai salah satu bentuknya. Alloh memerintahkan agar kita menyembelih hewan
Qurban yang terbaik sesuai kemampuan kita.
Secara arti syariat, benar bahwa yang disembelih adalah hewan Qurban
seperti Sapi, kerbau, dan atau kambing sejenis. Ada aturan syariatnya bagaimana
memilih hewan, kapan waktu pelaksanaan, dan bagaimana teknis penyembelihannya
sesuai kaidah-kaidah yang dituntunkan.
Namun di samping secara syareat, ibadah menyembelih hewan Qurban
memiliki makna tarekat, yakni bahwa yang disembelih itu sejatinya adalah sifat
dan watak kehewanan/kebinatangan dari diri yang melaksanakan ibadah qurban.
Penyembelihan hewan sebagai symbol sekaligus momentum peneguhan
komitmen pelaksana qurban untuk mendahulukan anugrah akal dan qolbu sebagai
pusat komandonya. Yaitu, akal dan qolbu yang selalu mengikuti buku petunjuk
pelaksanaan hidup sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Assunnah.
Alhamdulillah, bersyukur sepenuh langit dan bumi kita semua selalu
dalam alur], karena ajaran yang sudah jadi amalan kita sehari-hari, berdzikir,
berwirid, dan melaksanakan sholat-sholat sunnah, di bawah bimbingan sang
pemandu ruhani Guru Agung Syeikh Mursyid Abah Aos. Alhamdulillah.

Comments

comments

Check Also

Talqin Itu Menjual Diri kepada ALLOH

Talqin Dzikir itu bai’at. Bukan berbai’at kepada orang tetapi kepada ALLOH. Siapa saja yang sudah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *